Showing posts with label KEORGANISASIAN. Show all posts
Showing posts with label KEORGANISASIAN. Show all posts

Monday, 10 January 2011

Karakteristik Kelembagaan Organisasi Berbasis Masyarakat Marjinal yang Efektif

Sebuah organisasi yang ideal setidaknya harus memiliki beberapa karakter :
1.      Memiliki struktur organisasi dengan karakteristik sebagai berikut :
a.      Struktur organisasi dibentuk dengan penyesuaian visi misi yang akan dijalankan dengan efisien dan efektif dalam mengupayakan perubahan sosial;
b.      Setiap jabatan dalam struktur organisasi mampu menjelaskan job deskripsi serta garis koordinasi dan komando.
c.      Model struktur tidak rumit sehingga memudahkan alur kerja dan komunikasi.
2.      Memiliki aturan tertulis terkait mekanisme atau prosedural dalam mengelola kelembagaan dengan beberapa prinsip seperti demokratis, transfaransi, akuntabilitas, efisiensi dan efektifitas.
3.      Memiliki program kerja yang dapat terukur baik durasi, ketersediaan SDM, pendanaan, ouput dan outcome.
4.      Memiliki kemampuan dalam mengorganisir dan mengkaderisasi komunitas.
5.      Memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) dengan karakteristik sebagai berikut :
a.      Mampu dan berkomitmen dalam menjalankan fungsi sebagai implementator maupun administrator.
b.      Mampu beradaptasi dan memberikan edukasi kepada komunitasnya baik pengetahuan maupun perilakunya;
c.      Peka dalam menganalisa permasalahan dan potensi kominitasnya dan memiliki inisiatif dalam mentransformasikannya kepada komunitas.
d.      Sabar, jujur, rela berkorban dan sifat-sifat positif lainnya.

Sunday, 9 January 2011

Peran Strategis CBO dalam Pemberdayaan Komunitas TKI



Permasalahan TKI memang tiada henti, begitupun peran relawan CBO lokal dalam melakukan pendampingan TKI bermasalah. Penguasaan tentang wilayah sekitarnya bukanlah menjadi masalah, walaupun mereka terkendala dalam hal pengadaan anggaran dan alat operasional. Namun itupun, bukanlah menjadi hambatan yang cukup berarti, karena mereka telah dibekali spirit kepedulian dan pembelaan sesama warga setempatnya. Hal tersebut dapat terlihat di daerah Indramayu, Cirebon, Brebes, Blitar, dan Malang.
Perkembangan terakhir menunjukkan adanya upaya inovasi dari ralawan CBO dalam mendampingi komunitas TKI, yaitu diantaranya melakukan restrukturisasi serta penguatan kelembagaan, dan mulai fokus pada pemberdayaan ekonomi. Walaupun demikian, pendampingan TKI bermasalah dan mengupayakan adanya produk kebijakan yang berpihak pada perlindungan TKI tetap dijalankan.
Mereka menyadari bahwa kemiskinan adalah pemicu bermigrasinya warga desa yang didominasi perempuan ke luar negeri sebagai TKI, sejalan dengan itu merekapun menyadari keterpurukan ekonomi yang mendera hampir sebagian relawan CBO lokal. Bagaimanapun juga, berdaya secara ekonomi di daerah adalah keiinginan komunitas TKI sesungguhnya, karena berpisah dengan anggota keluarganya adalah merupakan kerugian terlebih lagi bagi TKI bermasalah.
Adanya inisiatif pemberdayaan ekonomi bagi relawan CBO lokal dan komunitas TKI di daerah adalah dengan tujuan mengurangi tingkat kemiskinan serta adanya alokasi dana kemanusiaan seperti pengadaan dana operasional pendampingan TKI bermasalah dari keuntungan aktifitas wirausaha di daerah.
Peran serta pihak lain seperti dari pemerintah, korporasi dan pihak lainnya sangat diperlukan bagi CBO lokal dalam mengupayakan peningkatan skill berupa penguasaan teknologi komputerisasi, pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP), sistem pendataan, pemahaman manajemen terkait organisasi, leadership, administrasi serta kewirausahaan.

Monday, 24 May 2010

PEMIMPIN DEMOKRATIS SEJATI DALAM ORGANISASI MASYARAKAT MARJINAL


Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi sosial karena merasa tidak dapat hidup tanpa orang lain. Adanya kesadaran seperti itu dan didukung adanya dorongan positif baik dorongan individual maupun dorongan sosial yaitu memperjuangkan diri dan komunitasnya yang merupakan bagian dari sebuah kesatuan yang tak terpisahkan untuk melakukan perubahan status komunitasnya menuju peningkatan strata sosialnya.
Kondisi naluri individu yang alamiah seperti itulah yang mendorong terbentuknya organisasi masyarakat di lingkungan komunitas marjinal berdasarkan adanya suatu kebutuhan dan tujuan yang hendak dicapainya.

Dalam upaya pencapaian tujuan organisasi masyarakat marjinal, diperlukan adanya karakteristik pemimpin demokratis di berbagai lini dari mulai pemimpin terdepan, pemimpin menengah hingga pemimpin tertinggi.

Mengingat bahwa ketiga tipe strata pemimpin tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari komunitasnya yang marjinal, maka dengan sendirinya segala seluk beluk permasalahan komunitasnya akan cukup dipahami sehingga mendorongnya untuk segara mencari pemecahan masalahnya (problem solving).

Ketiga tipe strata pemimpin tersebut di atas harus bekerja secara terintegrasi sehingga diperlukan sosok tipe pemimpin demokratis. Namun perlu dipertegas bahwa pemimpin demokratis yang dimaksud adalah pemimpin demokratis sejati/ tulen atau bukan pemimpin demokratis palsu.

Mengapa diperlukan tipe pemimpin demokratis sejati dalam organisasi masyarakat marjinal ?

Pemimpin demokratis sejati adalah sosok pendamping atau pembimbing terbaik bagi komunitasnya. Kesadaran bahwa organisasi atau lembaga bukan merupakan persoalan pribadi atau individual, karena kesadarannya tidak mampu bekerja seorang diri, melainkan bahwa kekuatan organisasi terbangun melalui partisipasi aktif seluruh anggota. Oleh karena itu, dirinya harus mengkoordinasikan pekerjaan maupun tugas dari seluruh anggota organisasi dengan penekanan rasa tanggungjawab dan kerja sama yang baik kepada seluruh anggota organisasi. Untuk dapat membangun kerja sama seluruh anggota organisasi dengan penuh rasa tanggungjawab maka diperlukan adanya kemauan mendengar dan menyerap makna dari nasehat dan sugesti yang baik dari semua pihak. Dengan kemauan seperti itu, dia akan mampu memanfaatkan keunggulan setiap orang secara efektif dan pada waktu yang tepat.

Dengan karakteristik pemimpin demokratis sejati, pola kerjasama yang interaktif antara pimpinan dan anggotanya akan terbangun dengan dinamis dan harmonis,. karena pimpinan memerlukan bantuan, dukungan dan partisipasi dari seluruh anggotanya. Begitupun dengan anggotanya yang memerlukan penghargaan dan dorongan dari pimpinannya. Selain itu pemimpin pada tipe ini juga memerlukan support/dukungan moril dari teman sejawat yang sederajat kedudukannya dengan dirinya.
Secara struktural di lembaganya, pemimpin demokratis sejati dianggap lebih tinggi jabatannya, secara fungsional dia adalah dinamisator yang harmonis, dan di komunitasnya dia adalah pelayan komunitasnya.

Untuk pembahasan mengenai pemimpin demokratis palsu, akan penulis bahas pada kesempatan berikutnya.

Sunday, 23 May 2010

Organisasi Masyarakat Marjinal, Non Profit atau Profit ?


Mereview perjalanan suatu organisasi masyarakat marjinal, berawal dari studi kasus masalah sosial di komunitasnya (case study of social problems). Dengan adanya suatu permasalahan sosial, maka terdapat beberapa kebutuhan (needs) komunitas tersebut belum terpenuhi, dengan latar belakang (motif) kondisi yang sedemikian tersebut di atas, mendorong (memotivasi) seseorang atau lebih untuk berupaya memenuhi tujuannya yaitu mempertahankan hidup dan mengembangkan kualitas hidup sehingga terhindar dari keterpinggiran.
Karakteristik manusia sebagai makhluk sosial dimana setiap individu membutuhkan individu lainnya untuk berinteraksi sosial. Di dalam diri individu terdapat dua dorongan (motivation) yang bersifat positif dan negatif yaitu dorongan individual seperti makan, berkelahi, berkuasa, berjuang dan lain-lain serta dorongan sosial seperti berkawan, berkumpul, meniru, memanfaatkan individu lain dan lain sebagainya.
Organisasi masyarakat marjinal idealnya mempunyai tujuan sebagai agen perubahan sosial khususnya komunitasnya sendiri yang marjinal, namun dalam prakteknya termasuk juga didalamnya sebagai agen perubahan diri individu yang ada di dalam organisasi tersebut. Sebuah fakta dilematis jika memiliki tujuan melakukan perubahan masyarakat tetapi diri sendirinya tidak melakukan perubahan.
Dalam upaya pencapaian tujuan organisasi, beberapa alternatif perbuatan (praxis), baik individu maupun organisasi dapat dilakukan seperti kerja bakti, menolong orang sakit, mengubur orang yang meninggal dan sebagainya yang bersifat non profit juga pelaksanaan beberapa model program/proyek yang mengandung nilai profit misalnya program pembuatan jalan desa, saluran air, program pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan sebagainya yang sudah tentu telah terencana baik latar belakang pelaksanaan program, kelompok sasaran, tujuan dan hasil yang hendak dicapai, alat ukur (indikator) dan sebagainya yang dananya berasal dari pihak lain. Khusus pada pelaksanaan program yang didanai, organisasi masyarakat marjinal dapat berperan serta aktif dengan membuat proposal program, membentuk manajemen tim yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi program tersebut. Idealnya dalam program yang didanai tersebut ada alokasi dana untuk tim manajemen seperti gaji, transportasi, ATK dan sebagainya walaupun sifatnya temporer (sementara), terbatas baik jumlah dana maupun durasi kerjanya.
Namun yang sangat diharapkan dari berbagai pihak, baik dari dalam organisasi masyarakat marjinal tersebut maupun kelompok sasarannya adalah adanya suatu aktifitas yang menguntungkan dan berkesinambungan (kontinuitas) baik secara individual maupun berkelompok seperti koperasi, lembaga pendidikan dan sebagainya.
Dengan paparan di atas, maka organisasi masyarakat adalah suatu lembaga yang bersifat non profit sekaligus profit. Penulis beranggapan bahwa bertambahnya pengalaman berorganisasi yang membentuk suatu pengetahuan / kecakapan / kompetensi yang berdampak pada individu maupun organisasinya adalah juga merupakan suatu keuntungan (profit) yang tidak terbantahkan dan berdampak panjang, terlebih lagi jika mampu memberikan keuntungan ekonomi yang berkesinambungan.
Untuk menciptakan suatu aktifitas usaha menguntungkan yang berkepanjangan, maka kader-kader organisasi masyarakat marjinal harus memiliki jiwa seorang wirausaha yang berkarakter gigih, memiliki skill atau keterampilan untuk menciptakan barang atau jasa yang dapat dijual, kemampuan memanajemen atau mengelola usaha dengan jujur dan bertanggungjawab terhadap beberapa prinsip, khusus dalam bentuk perkumpulan usaha diperlukan beberapa prinsip seperti demokratis, efektifitas, efisiensi, transfaransi, akuntability, berkeadilan (distributif dan konstributif), berkesinambungan, partisipatif komunitas dan sebagainya.

Wednesday, 31 March 2010

Pentingnya Keberadaan Organisasi Masyarakat Marjinal

Di era persaingan yang mengglobal keberadaan masyarakat marginal semakin memprihatinkan, mereka tersisihkan dari akses kemajuan zaman. Mereka hanya dapat menonton atas kebermanfaatan anugerah peradaban manusia. Kemudahan dan penyebaran informasi yang ditawarkan dunia semakin menyudutkan posisi mereka pada ketidakberdayaan. Melihat kondisi ini memicu munculnya upaya –upaya penyadaran kritis di kalangan masyarakat bawah.
Upaya - upaya terorganisir di kalangan masyarakat marjinal sangatlah penting karena telah terbukti membuahkan kerja-kerja masyarakat yang produktif. Namun disisi lain organisasi masyarakat tersebut sangat lemah di internal kelembagaannya. Beberapa hal yang harus didukung untuk penguatannya adalah manajemen organisasi dan penguatan individu dalam memberdayakan dirinya khususnya dari sisi ekonomi. Kolaborasi antara kekuatan implementasi lapangan dengan manajemen organisasi dan penguatan ekonomi individual akan memperkokoh eksistensi organisasi masyarakat tersebut baik eksternal maupun internal sehingga kerja-kerja masyarakat maupun kerja-kerja di dalam organisasi di tubuh organisasi masyarakat tersebut akan lebih produktif dalam menjawab berbagai persoalan yang kompleks di tengah-tengah masyarakat marjinal.
Eksistensi organisasi masyarakat marjinal sangatlah penting dipertahankan karena perannya dalam implementasi lapangan secara langsung berada pada front line di tengah masyarakat marjinal, melalui implementasinya mereka telah terintegrasi dengan komunitas marjinal sehingga mereka telah dianggap refresentatif masyarakat marjinal yang berperan sebagai ekstra parlemen oleh pemerintahan daerah.
Paradigma tersebut di atas dengan sendirinya terbangun sehingga mampu menempatkan bergaining position yang kuat bagi komunitasnya.
Kekuatan terintegrasi antara legislatif, eksekutif dan organisasi masyarakat adalah media agen perubahan sosial yang efektif.