Minggu, 23 Mei 2010

Organisasi Masyarakat Marjinal, Non Profit atau Profit ?


Mereview perjalanan suatu organisasi masyarakat marjinal, berawal dari studi kasus masalah sosial di komunitasnya (case study of social problems). Dengan adanya suatu permasalahan sosial, maka terdapat beberapa kebutuhan (needs) komunitas tersebut belum terpenuhi, dengan latar belakang (motif) kondisi yang sedemikian tersebut di atas, mendorong (memotivasi) seseorang atau lebih untuk berupaya memenuhi tujuannya yaitu mempertahankan hidup dan mengembangkan kualitas hidup sehingga terhindar dari keterpinggiran.
Karakteristik manusia sebagai makhluk sosial dimana setiap individu membutuhkan individu lainnya untuk berinteraksi sosial. Di dalam diri individu terdapat dua dorongan (motivation) yang bersifat positif dan negatif yaitu dorongan individual seperti makan, berkelahi, berkuasa, berjuang dan lain-lain serta dorongan sosial seperti berkawan, berkumpul, meniru, memanfaatkan individu lain dan lain sebagainya.
Organisasi masyarakat marjinal idealnya mempunyai tujuan sebagai agen perubahan sosial khususnya komunitasnya sendiri yang marjinal, namun dalam prakteknya termasuk juga didalamnya sebagai agen perubahan diri individu yang ada di dalam organisasi tersebut. Sebuah fakta dilematis jika memiliki tujuan melakukan perubahan masyarakat tetapi diri sendirinya tidak melakukan perubahan.
Dalam upaya pencapaian tujuan organisasi, beberapa alternatif perbuatan (praxis), baik individu maupun organisasi dapat dilakukan seperti kerja bakti, menolong orang sakit, mengubur orang yang meninggal dan sebagainya yang bersifat non profit juga pelaksanaan beberapa model program/proyek yang mengandung nilai profit misalnya program pembuatan jalan desa, saluran air, program pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan sebagainya yang sudah tentu telah terencana baik latar belakang pelaksanaan program, kelompok sasaran, tujuan dan hasil yang hendak dicapai, alat ukur (indikator) dan sebagainya yang dananya berasal dari pihak lain. Khusus pada pelaksanaan program yang didanai, organisasi masyarakat marjinal dapat berperan serta aktif dengan membuat proposal program, membentuk manajemen tim yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi program tersebut. Idealnya dalam program yang didanai tersebut ada alokasi dana untuk tim manajemen seperti gaji, transportasi, ATK dan sebagainya walaupun sifatnya temporer (sementara), terbatas baik jumlah dana maupun durasi kerjanya.
Namun yang sangat diharapkan dari berbagai pihak, baik dari dalam organisasi masyarakat marjinal tersebut maupun kelompok sasarannya adalah adanya suatu aktifitas yang menguntungkan dan berkesinambungan (kontinuitas) baik secara individual maupun berkelompok seperti koperasi, lembaga pendidikan dan sebagainya.
Dengan paparan di atas, maka organisasi masyarakat adalah suatu lembaga yang bersifat non profit sekaligus profit. Penulis beranggapan bahwa bertambahnya pengalaman berorganisasi yang membentuk suatu pengetahuan / kecakapan / kompetensi yang berdampak pada individu maupun organisasinya adalah juga merupakan suatu keuntungan (profit) yang tidak terbantahkan dan berdampak panjang, terlebih lagi jika mampu memberikan keuntungan ekonomi yang berkesinambungan.
Untuk menciptakan suatu aktifitas usaha menguntungkan yang berkepanjangan, maka kader-kader organisasi masyarakat marjinal harus memiliki jiwa seorang wirausaha yang berkarakter gigih, memiliki skill atau keterampilan untuk menciptakan barang atau jasa yang dapat dijual, kemampuan memanajemen atau mengelola usaha dengan jujur dan bertanggungjawab terhadap beberapa prinsip, khusus dalam bentuk perkumpulan usaha diperlukan beberapa prinsip seperti demokratis, efektifitas, efisiensi, transfaransi, akuntability, berkeadilan (distributif dan konstributif), berkesinambungan, partisipatif komunitas dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar